Jadi, Aku Harus Apa?


#Sebuah Curhatan 

Memasuki masa dewasa, tidak ada enaknya sama sekali. Kalau dilihat dari tahap perkembangan Erik Erikson, di umurku yang masih menginjak 19 tahun 1 bulan 17 hari, seharusnya aku berada di tahap identity vs role confusion. Ga lama lagi aku akan menghadapi tahap Intimacy vs Isolation. Jikalau aku harus mengingat-ingat umurku yang bukannya lagi untuk bermain-main, maka setumpuk perasaan gundah gulana akan menyergap dan menghantui selama beberapa jam bahkan bisa menghancurkan moodku untuk beraktvitas. Apa yang kutakutkan?

Kalau kau tanya apa yang ku takutkan, maka jawabannya banyak. Sangat banyak. Di umurku menuju kepala 2, tidak satu pun prestasi yang kutorehkan. Tidak satu pun kenangan yang dapat kubanggakan. Tidak ada satu pun hal yang bisa kusumbangkan ke Negari tercinta. Tidak ada.

Sosial media terkadang menambah kegalauan ku, di satu sisi memotivasiku, di satu sisi membuatku hanya dapat meringkuk dikamar. Teman-temanku, hampir semua, selama menjalani masa pendidikan kuliah ini banyak sekali prestasi yang mereka torehkan. Ada yang melakukan penelitian hingga keluar kota, bahkan ada yang mengikutkan sertakan karya tulisnya hingga keluar negeri, ada yang sudah membuat youtube channel dengan konten yang mengedukasi, ada yang sudah menjadi relawan dengan segudang prestasi dan tidak bisa kusebutkan satu per satu lagi prestasi teman-temanku.

“Aku ingin seperti itu”.

Sontak di diriku yang lain tertawa. Apa? Kau mau jadi apa? Sekarang berkacalah, apa yang sudah kau usahakan? Apa yang sudah kau mulai? Apa yang sudah kau perjuangkan? Tidak ada. Bagai dihantam batu besar ke kepala, ingin menangis rasanya mengetahui bahwa aku hanya hidup di dunia khayalan. Diri yang satu berontak, “Aku tidak tahu mulai dari mana! Tidak ada yang membimbingku, tidak ada yang punya keinginan yang sama denganku! Aku sendiri dan aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat!”

“Itu semua hanya alasanmu. Alasanmu untuk lari dari kenyataan bahwa kau MALAS untuk berubah. Alasanmu jika kau teringat kata mama yang sering berandai ia ingin bahwa anak-anaknya dapat sukses dan hidup senang. Alasanmu untuk tetap hidup tenang dan bisa bermain terus”.
Aku tahu. Aku tahu betul apa yang menyebabkan aku seperti ini. Namun, aku benar-benar tidak mengerti, apa yang membuatku terus berdiri di tempat. Menyalahkan keadaan dan menutup mata dari segala realitas kehidupan. Mau jadi apa masa depanku jika aku harus begini? Aku harus mulai dari mana?

Jadi, Aku harus apa?

Comments